Ketika Langit Terbakar Minyak: Harapan Pemuda Indonesia Di Tengah Perang Iran–Israel

Ketika Langit Terbakar Minyak: Harapan Pemuda Indonesia Di Tengah Perang Iran–Israel

Oleh: Akbar



Pendahuluan

Ketika perang meletus di belahan dunia lain, dampaknya tak selalu berupa dentuman senjata yang terdengar hingga ke tanah air. Namun bagi Indonesia, perang Iran–Israel tahun 2025 terasa nyata dalam bentuk lain: lonjakan harga minyak dunia, peningkatan inflasi, serta beban hidup rakyat yang semakin berat. Dua negara ini merupakan bagian penting dari rantai pasok minyak global, dan ketegangan di kawasan tersebut menimbulkan ketakutan pasar yang mendorong harga energi ke tingkat krisis (International Energy Agency, 2025).

Bagi Indonesia, kondisi ini menjadi pukulan ganda. Meski memiliki cadangan minyak bumi, Indonesia justru masih bergantung pada impor. Menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (2024), pada tahun 2023 Indonesia mengimpor 129 juta barel minyak mentah dan 168 juta barel Bahan Bakar Minyak (BBM), dengan total mencapai 297 juta barel. Ketergantungan ini menjadikan ekonomi dalam negeri sangat rentan terhadap dinamika global. Ketika harga minyak melonjak, yang terdampak paling besar adalah masyarakat kecil: biaya transportasi naik, harga bahan pokok terdongkrak, dan subsidi negara membengkak.

Krisis energi bukan sekadar persoalan teknis, melainkan isu keadilan sosial dan ekonomi. Kenaikan harga energi akibat konflik global paling membebani kelompok masyarakat berpenghasilan rendah, sementara kelompok atas masih dapat mengakses energi dengan relatif mudah. Inflasi energi menjadi ancaman serius terhadap kesejahteraan rakyat dan berpotensi menggagalkan cita-cita pembangunan jangka panjang, termasuk visi Indonesia Emas 2045. Pembangunan berkelanjutan tidak hanya menekankan efisiensi ekonomi, tetapi juga mengharuskan terpenuhinya kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan generasi mendatang (Bappeda Buleleng, 2017). Selain itu, partisipasi masyarakat dan keterbukaan pemerintah dalam menampung aspirasi publik merupakan fondasi utama agar pembangunan bersifat adil dan inklusif (PT SMI, 2022).

Dalam konteks krisis energi dan ketimpangan akses terhadap sumber daya, peran pemuda tidak lagi bisa dipandang sebelah mata. Mereka tidak boleh sekadar menjadi penonton dalam pusaran ketergantungan energi yang terus membelenggu kemandirian nasional. Presiden Joko Widodo dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda 2021 menegaskan bahwa, “Pemuda adalah kekuatan terbesar, bonus demografi bagi bangsa Indonesia. Pemuda adalah para pemberani untuk mengambil risiko dan merebut peluang-peluang” (Liputan6.com, 2021). Dengan semangat inovatif, keberanian menjelajahi solusi alternatif, serta keterampilan dalam teknologi dan kolaborasi lintas sektor, pemuda Indonesia memiliki posisi strategis untuk memimpin transisi menuju kemandirian energi dan keadilan ekonomi yang berkelanjutan. 

 

Efek Domino Krisis Energi Global terhadap Indonesia

Kenaikan harga minyak global memicu inflasi biaya dorongan karena energi merupakan komponen dasar dalam hampir semua aktivitas ekonomi. Ongkos logistik meningkat, biaya produksi melambung, dan pada akhirnya harga kebutuhan pokok ikut terdongkrak. Bank Indonesia dalam Laporan Kebijakan Moneter Kuartal I 2025 mencatat bahwa inflasi tahunan melonjak menjadi 5,2%, dengan tekanan utama dari sektor transportasi dan energi (Bank Indonesia, 2025). Sebagai respons, suku bunga acuan dinaikkan menjadi 6,25% untuk menahan laju inflasi, namun langkah ini turut melemahkan daya beli masyarakat dan membatasi konsumsi domestik.

Nilai tukar rupiah juga melemah, menyentuh kisaran Rp16.200 per USD akibat tekanan eksternal dan ketidakpastian global, yang meningkatkan mahalnya biaya impor energi. Imbasnya, neraca perdagangan energi semakin terbebani. Pemerintah pun menaikkan alokasi subsidi energi agar harga BBM tetap terjangkau. Laporan Kementerian Keuangan menyebut realisasi subsidi dan kompensasi energi pada tahun 2024 mencapai Rp386,9 triliun, melonjak dari target Rp185,9 triliun dalam APBN (Kementerian Keuangan RI, 2025). Kondisi ini mempersempit ruang fiskal untuk sektor penting seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur. Ketergantungan pada energi fosil dan impor BBM bukan sekadar risiko ekonomi, tetapi penghambat utama pembangunan yang merata.

Lebih dari itu, krisis energi global menegaskan kegagalan diversifikasi energi nasional dan menunjukkan bahwa tanpa reformasi kebijakan struktural yang menyeluruh, situasi serupa bisa terus terulang bahkan lebih parah di masa mendatang.

 

Kemandirian Energi sebagai Fondasi Keadilan Ekonomi

Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar, salah satunya berasal dari sinar matahari yang melimpah sepanjang tahun. Berdasarkan pemaparan Universitas Pertamina dalam forum Indonesia Solar Summit 2022, potensi teknis energi surya di Indonesia mencapai sekitar 207,8 gigawatt. Namun, hingga akhir 2021, kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang telah terpasang baru mencapai 200,1 megawatt, atau hanya sekitar 0,1 persen dari total potensi tersebut (Universitas Pertamina, 2022). Ketimpangan yang sangat besar ini mencerminkan minimnya pemanfaatan energi bersih dalam sistem energi nasional, padahal pengembangan PLTS memiliki karakteristik modular, cepat dibangun, dan cocok untuk diterapkan di berbagai wilayah termasuk desa terpencil.

Selaras dengan data tersebut, Mongabay Indonesia juga menyoroti bahwa meskipun Indonesia memiliki potensi energi surya yang sangat besar, pengembangan PLTS masih menghadapi banyak kendala. Kendala tersebut meliputi regulasi yang belum sinkron, keterbatasan insentif fiskal, dan minimnya kesadaran publik akan manfaat energi terbarukan. “Padahal, bila dikembangkan secara optimal, energi surya tidak hanya berkontribusi terhadap ketahanan energi, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru seperti penciptaan lapangan kerja hijau dan peningkatan pendapatan masyarakat desa,” tulis Mongabay dalam laporannya (Mongabay Indonesia, 2024).

Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan utama bukan terletak pada potensi teknis, melainkan pada aspek struktural, kebijakan, dan sosial. Kurangnya koordinasi antara pusat dan daerah, belum adanya skema harga jual listrik yang menarik bagi investor, serta minimnya edukasi masyarakat membuat transisi energi surya berjalan lambat. Padahal, dalam konteks keadilan energi, pengembangan PLTS skala rumah tangga dan komunitas dapat menjamin akses energi yang lebih adil, murah, dan mandiri, khususnya bagi masyarakat di wilayah terpencil yang selama ini belum terjangkau jaringan listrik nasional.

Untuk itu, strategi pengembangan energi surya di Indonesia harus dibarengi dengan reformasi kebijakan yang menyeluruh. Ini meliputi integrasi PLTS dalam Rencana Umum Energi Daerah, penyederhanaan perizinan, penyediaan subsidi awal bagi rumah tangga berpenghasilan rendah, serta pelibatan pemuda dalam inovasi energi berbasis lokal. Tanpa langkah konkret ini, potensi energi surya yang sangat besar hanya akan menjadi angka di atas kertas, sementara masyarakat masih dibebani harga energi yang fluktuatif dan tidak merata.

 

Peran Strategis Pemuda: Menyalakan Harapan di Tengah Krisis

Dengan proporsi penduduk usia produktif lebih dari 70 persen (BPS, 2023), Indonesia memiliki bonus demografi yang substansial. Pemuda menjadi penggerak penting dalam transisi energi karena semangat perubahan mereka, akses terhadap teknologi baru, dan keterbukaan pada inovasi.

Contoh nyata kontribusi pemuda terlihat di Nusa Tenggara Barat (NTB). Di Desa Setiling, mahasiswa KKN Universitas Mataram bekerja sama dengan Yayasan Rumah Energi dan Kelompok Wanita Tani membangun instalasi biogas dari limbah ternak. Program ini tidak hanya membantu mengurangi ketergantungan pada LPG 3 kg, tetapi juga mendukung tujuan UN SDGs terkait energi bersih dan kesetaraan (Suaralomboknews.com, 2025).

Inisiatif inovatif lainnya terdapat di Lombok Barat, di mana mahasiswa mengembangkan biogas berbasis mikroalga bekerja sama dengan Pertamina dan IPB. Program ini bertujuan mengoptimalkan limbah nabati sebagai energi terbarukan, dan telah dijalankan di Desa Bagek Payung, Kecamatan Suralaga (Antara via ValidNews.id, 2022).

Di Jawa Tengah, pemuda tani dari Desa Kemangkon menciptakan pompa air tenaga surya (solar pump) yang mengairi sawah setengah hektar per hari. Proyek ini berhasil mengurangi biaya dari Rp196 juta menjadi sekitar Rp60 juta (Kompas.com, 2024).

Dalam aspek kebijakan, organisasi seperti Pemuda Tani Indonesia dan Agrinnovation Conference & Rakernas Pemuda Tani 2025 secara aktif mendorong integrasi teknologi pertanian modern dan advokasi energi dalam produksi pangan. Mereka berkolaborasi dengan pemerintah, menghadirkan inovasi seperti drone farming dan urban farming dalam program tingkat nasional (Kompasiana dan Liputan6, 2025).

Pemuda juga mulai dilibatkan dalam forum kebijakan seperti Rencana Umum Energi Daerah (RUED) dan musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang). Mereka bukan cuma eksekutor inovasi, tetapi juga pengawal kebijakan publik, menjembatani aspirasi masyarakat dan keputusan negara.

Untuk menjadikan peran ini struktural, diperlukan ruang formal seperti keterwakilan pemuda di Musrenbang, RUED, dan partisipasi dalam forum energi di tingkat nasional hingga COP. Dengan memadukan aksi lokal dan advokasi kebijakan, pemuda bisa menjadi lokomotif transformasi energi yang adil, mandiri, dan berkelanjutan.

           

Peluang dan Tantangan dalam Transformasi Energi oleh Pemuda

Potensi pemuda Indonesia sangat besar sebagai katalis transisi energi yang adil dan inklusif. Dengan jumlah penduduk usia produktif mencapai 70 persen (BPS, 2023), negara ini berada dalam momentum bonus demografi yang bisa dimanfaatkan untuk percepatan energi hijau. Dukungan internasional lewat inisiatif Just Energy Transition Partnership (JETP) memberi peluang konkret bagi generasi muda: melalui pendanaan, pelatihan, dan jaringan global lintas negara (Reuters, 2024).

Program JETP di Indonesia, yang dijalankan bersama IPG (negara-negara seperti Jepang, AS, dan Eropa) dengan total komitmen awal mencapai USD 20 miliar, memiliki fokus pada akselerasi peralihan dari batu bara ke energi terbarukan, pengurangan emisi sektor ketenagalistrikan, serta dukungan untuk pekerja dan masyarakat terdampak melalui pelatihan dan pendampingan. Ini menawarkan kerangka bagi pemuda untuk terlibat dalam proyek nyata seperti PLTS terapung Saguling (92 MW) yang didukung oleh pendanaan Jerman, Perancis, dan Bank Inggris senilai USD 60 juta yang difokuskan oleh Menko Perekonomian pada April 2025.

Selain itu, peran pemuda diperkuat melalui kapasitas kelembagaan, seperti JETP Secretariat, dengan dukungan ADB, Canada, dan Jepang yang menyediakan pelatihan teknis, studi kasus dan jaringan untuk pemuda yang ingin menjadi pelatih, pengembang, atau advokat energi terbarukan. Diskusi lintas pemangku kepentingan seperti FGD JETP (Desember 2024), yang dihadiri oleh lembaga keuangan dan pengembang proyek, juga menegaskan bahwa “just transition bukan sekadar konsep, tapi harus memberikan manfaat nyata kepada masyarakat”.

Namun, peluang ini juga diiringi tantangan nyata. Realisasi dana dari JETP masih lambat hingga pertengahan 2024 hanya sekitar USD 144,6 juta untuk hibah dan bantuan teknis, dibandingkan komitmen awal USD 20 miliar. Hambatan publik masih terasa: ketimpangan akses pendidikan dan teknologi khususnya di wilayah timur dan perdesaan menghambat inovasi. Selain itu birokrasi yang kompleks, pembiayaan terbatas, serta minimnya sistem inkubasi lokal menyebabkan banyak gagasan pemuda tidak berkembang ke skala implementasi.

Meski begitu, tantangan ini bisa menjadi titik tolak untuk menguatkan solidaritas pemuda dan mendorong kebijakan inklusif. Model kolaboratif yang mempertemukan universitas, LSM, dan sektor swasta dalam satu ekosistem yang dapat membuka jalan bagi munculnya inovator muda energi yang siap berkompetisi. Dengan dukungan regulasi yang kuat, sistem inkubasi yang terintegrasi, serta keterlibatan aktif pemuda dalam forum kebijakan (seperti Musrenbang dan RUED), transisi energi di Indonesia dapat menjadi perjalanan yang adil, berkelanjutan, dan tumbuh dari potensi generasi mudanya.

 

Penutup

Krisis energi global yang dipicu oleh konflik Iran dan Israel tahun 2025 menjadi cermin rapuhnya ketahanan energi Indonesia, sekaligus memaksa kita untuk meninjau ulang arah pembangunan nasional yang selama ini masih bergantung pada energi fosil dan pasar luar negeri. Namun di balik tekanan tersebut, terbuka ruang transformasi yakni kesempatan untuk membangun sistem energi yang lebih adil, mandiri, dan berkelanjutan. Dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045, pemuda harus ditempatkan bukan hanya sebagai objek pembangunan, tetapi sebagai motor penggeraknya.

Dengan semangat inovatif dan keterampilan yang terus berkembang, pemuda memiliki kapasitas untuk menjawab tantangan krisis energi melalui pendekatan yang berbasis teknologi, komunitas, dan keadilan sosial. Contoh nyata dari berbagai daerah menunjukkan bahwa keterlibatan pemuda mampu menghadirkan solusi konkret, dari biogas skala desa hingga pembangkit listrik tenaga surya dan advokasi kebijakan. Namun, potensi ini hanya dapat dioptimalkan jika didukung oleh ekosistem yang inklusif dengan regulasi yang ramah inovasi, akses pembiayaan, serta ruang partisipasi dalam perumusan arah energi nasional.

Membangun kemandirian energi bukan hanya agenda lingkungan, tetapi investasi sosial yang memastikan bahwa setiap warga, tanpa memandang kelas dan wilayah, dapat hidup layak dan berdaya. Karena itu, masa depan energi Indonesia bukan semata ditentukan oleh pasokan dan permintaan global, melainkan oleh seberapa besar keberanian bangsa ini khususnya generasi mudanya untuk menyalakan harapan dari desa desa terpencil hingga pusat kebijakan nasional. Di tengah krisis, pemuda bukan sekadar harapan, mereka adalah jawaban.

 

Daftar Pustaka

Badan Pusat Statistik. (2023). Jumlah Penduduk Indonesia Menurut Kelompok Umur.

Bank Indonesia. (2025). Laporan Kebijakan Moneter Kuartal I 2025. Jakarta: Bank Indonesia. Diakses dari: https://www.bi.go.id

Bappeda Buleleng. (2017). Pembangunan ekonomi dalam konsep pembangunan berkelanjutan. https://bappeda.bulelengkab.go.id/informasi/detail/artikel/pembangunan-ekonomi-dalam-konsep-pembangunan-berkelanjutan-68

International Energy Agency. (2025). Oil Market Report – April 2025. Paris: IEA.

JETP Indonesia Secretariat. (2022). General Info on JETP Launch.
Diakses dari: https://www.jetp-id.org/news/general-info-on-jetp-launch

JETP Indonesia. (2023). Institutional and Capacity Building Support for JETP Secretariat.
Diakses dari: https://portfolio.jetp-id.org/project/institutional-and-capacity-building-support-for-jetp-secretariat

JETP Indonesia. (2024). Focus Group Discussion on Enhancing Just Transition.
Diakses dari: https://www.jetp-id.org/news/focus-group-discussion-enhancing-just-transition

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. (2024).
Ini Strategi Pemerintah Tekan Impor Migas. Siaran Pers Nomor 473.Pers/04/SJI/2024. Jakarta: Kementerian ESDM. 

Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2025). Realisasi Anggaran Subsidi Energi Lebih dari Target APBN 2024. VOI. Diakses dari: https://voi.id/ekonomi/449338/realisasi-anggaran-subsidi-energi-lebih-dari-target-apbn-2024

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia. (2025). Implementasi JETP melalui PLTS Terapung Saguling.
Diakses dari: https://ekon.go.id/publikasi/detail/4960/implementasi-jetp-melalui-plts-terapung-saguling

Reuters. (2024). Indonesia's Prabowo plans to retire all fossil fuel plants in 15 years, but experts are skeptical.
Diakses dari: https://www.reuters.com/world/asia-pacific/indonesias-prabowo-plans-retire-all-fossil-fuel-plants-15-years-experts-are-skeptical-2024-11-22

Reuters. (2024). Global JETP plans to help developing nations clean up power sectors.
Diakses dari: https://www.reuters.com/sustainability/sustainable-finance/global-jetp-plans-help-developing-nations-clean-up-power-sectors-2024-09-25

Liputan6.com. (2021). 3 Pesan Jokowi untuk Kaum Muda pada Puncak Peringatan Hari Sumpah Pemuda
https://www.liputan6.com/news/read/4696602/3-pesan-jokowi-untuk-kaum-muda-pada-puncak-peringatan-hari-sumpah-pemuda

PT Sarana Multi Infrastruktur. (2022). Pembangunan berkelanjutan: Pengertian, konsep dan tujuan.
https://www.ptsmi.co.id/pembangunan-berkelanjutan

 


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama