Paradoks Perkuliahan Online: Mahasiswa Tidak Disiplin, Nilai Rendah, dan Protes Tanpa Refleksi di Universitas Negeri Makassar

 

Paradoks Perkuliahan Online: Mahasiswa Tidak Disiplin, Nilai Rendah, dan Protes Tanpa Refleksi di Universitas Negeri Makassar

Oleh: Akbar 

Pendahuluan

Perkembangan teknologi digital telah membawa transformasi besar dalam dunia pendidikan, salah satunya melalui penerapan perkuliahan online. Sejak pandemi COVID-19, sistem ini menjadi alternatif utama untuk memastikan keberlangsungan proses belajar-mengajar. Universitas Negeri Makassar (UNM) sebagai salah satu perguruan tinggi negeri di Indonesia juga menerapkan sistem perkuliahan daring, baik secara penuh maupun hybrid. Harapannya, perkuliahan online dapat memberikan fleksibilitas, efisiensi, dan akses pembelajaran yang lebih luas bagi mahasiswa.

Namun, dalam praktiknya, fleksibilitas tersebut sering disalahgunakan oleh mahasiswa. Fenomena yang paling menonjol adalah banyak mahasiswa mengikuti kuliah daring tanpa sikap serius: kamera dimatikan, kuliah sambil berbaring, bahkan ada yang meninggalkan perangkat tanpa mendengarkan penjelasan dosen. Ironisnya, ketika nilai akademik yang diperoleh rendah, mahasiswa justru mengeluh dan menyalahkan dosen. Fenomena ini menimbulkan paradoks: di satu sisi mahasiswa menuntut kualitas pembelajaran yang baik, namun di sisi lain mereka sendiri tidak menunjukkan kedisiplinan dan kesungguhan dalam belajar.

Permasalahan ini mencerminkan adanya krisis tanggung jawab akademik yang lebih dalam. Perkuliahan online seharusnya menjadi sarana untuk melatih kemandirian, kedewasaan, serta kemampuan adaptasi mahasiswa terhadap dunia digital. Akan tetapi, tanpa disiplin diri, pembelajaran daring justru menjadi ruang yang memperlihatkan lemahnya budaya akademik. Oleh karena itu, esai ini akan mengkaji krisis disiplin mahasiswa dalam perkuliahan online di UNM, dampaknya terhadap nilai akademik, paradoks keluhan mahasiswa, serta menawarkan inovasi solusi untuk membangun kembali budaya belajar yang lebih sehat.


Krisis Disiplin Mahasiswa dalam Perkuliahan Online

Kedisiplinan merupakan fondasi penting dalam dunia akademik. Dalam perkuliahan tatap muka, mahasiswa dituntut hadir tepat waktu, memperhatikan dosen, dan berinteraksi secara langsung. Namun, dalam perkuliahan daring, aturan tersebut seringkali dianggap longgar. Mahasiswa merasa bisa hadir secara virtual tanpa benar-benar terlibat dalam proses belajar.

Sikap disiplin yang rendah tampak dalam beberapa bentuk:

Mematikan Kamera: Banyak mahasiswa enggan menyalakan kamera dengan alasan kuota internet atau kondisi lingkungan yang kurang mendukung. Padahal, kamera yang aktif bukan hanya soal teknis, tetapi juga mencerminkan keterlibatan mahasiswa dalam kelas. Dengan mematikan kamera, dosen kehilangan indikator visual untuk menilai apakah mahasiswa benar-benar mengikuti materi atau tidak.

Kuliah Sambil Rebahan: Fenomena lain yang sering terjadi adalah mahasiswa mengikuti kelas dari tempat tidur atau posisi yang tidak pantas. Hal ini jelas menunjukkan sikap kurang menghargai dosen dan suasana akademik. Kuliah sambil rebahan membuat konsentrasi menurun dan berpotensi mengurangi pemahaman terhadap materi.

Tidak Memperhatikan Dosen: Banyak mahasiswa sekadar menyalakan aplikasi Zoom atau Google Meet, namun sebenarnya sedang bermain media sosial, menonton film, atau bahkan meninggalkan perangkat. Mereka hanya menunggu saat absensi tanpa terlibat dalam diskusi kelas.

Faktor penyebab krisis disiplin ini beragam. Dari sisi internal, rendahnya motivasi belajar, manajemen waktu yang buruk, serta anggapan bahwa perkuliahan daring tidak sepenting tatap muka menjadi penyebab utama. Dari sisi eksternal, kurangnya pengawasan, keterbatasan fasilitas internet, serta budaya belajar yang permisif turut memperparah kondisi ini. Namun, apapun penyebabnya, sikap tidak disiplin pada akhirnya merugikan mahasiswa itu sendiri.


Dampak Ketidakdisiplinan terhadap Nilai Akademik

Kualitas hasil belajar sangat dipengaruhi oleh disiplin mahasiswa. Mahasiswa yang tidak memperhatikan dosen, jarang bertanya, dan tidak terlibat aktif dalam perkuliahan akan kesulitan memahami materi. Hal ini berujung pada rendahnya performa akademik, baik dalam tugas, ujian, maupun penilaian partisipasi.

Beberapa dampak nyata dari ketidakdisiplinan mahasiswa antara lain:

Nilai Tugas dan Ujian yang Rendah: Mahasiswa yang tidak serius mengikuti kuliah cenderung mengerjakan tugas secara asal-asalan atau bahkan mencontek. Akibatnya, kualitas jawaban rendah dan tidak sesuai harapan dosen.

Kurangnya Pemahaman Konsep: Tanpa konsentrasi penuh, mahasiswa kehilangan kesempatan untuk memahami konsep penting yang dijelaskan dosen. Akhirnya, mereka kesulitan mengaitkan teori dengan praktik.

Nilai Partisipasi yang Rendah: Dalam banyak mata kuliah daring, dosen menilai partisipasi mahasiswa melalui diskusi, presentasi, atau forum online. Mahasiswa yang tidak aktif otomatis mendapat nilai rendah pada aspek ini.

Menurunnya Etos Belajar: Ketidakdisiplinan yang terus-menerus akan membentuk kebiasaan buruk. Mahasiswa menjadi terbiasa mencari jalan pintas, tidak menghargai proses, dan lebih mementingkan hasil instan.

        Dengan demikian, nilai rendah yang diperoleh mahasiswa sebenarnya merupakan konsekuensi logis dari sikap mereka sendiri. Masalahnya bukan terletak pada metode mengajar dosen semata, melainkan pada keterlibatan mahasiswa dalam proses pembelajaran.


Paradoks Mahasiswa: Mengeluh Tanpa Refleksi

Fenomena yang ironis adalah mahasiswa seringkali mengeluh ketika nilai yang diperoleh rendah. Mereka menilai dosen tidak adil, terlalu keras dalam memberikan nilai, atau tidak mampu mengajar dengan baik. Padahal, keluhan ini jarang disertai dengan refleksi diri. Paradoks ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara hak dan kewajiban mahasiswa. Mahasiswa menuntut hak untuk mendapatkan nilai baik, tetapi lalai menjalankan kewajibannya untuk belajar dengan disiplin. Sikap ini bertentangan dengan identitas mahasiswa sebagai kaum intelektual yang seharusnya kritis, rasional, dan bertanggung jawab. Lebih jauh, keluhan tanpa refleksi berpotensi merusak hubungan antara dosen dan mahasiswa. Dosen merasa kurang dihargai, sementara mahasiswa terjebak dalam mentalitas menyalahkan pihak lain. Dalam jangka panjang, budaya akademik yang seharusnya menumbuhkan integritas dan tanggung jawab justru melemah.


Inovasi Solusi untuk Meningkatkan Disiplin dan Kualitas Pembelajaran

Untuk mengatasi masalah krisis disiplin mahasiswa dalam perkuliahan online, diperlukan inovasi solusi yang bersifat sistemik. Beberapa gagasan yang dapat diterapkan antara lain:

Kebijakan Kamera Wajib Aktif: Kampus perlu mengeluarkan kebijakan tegas mengenai kewajiban menyalakan kamera selama perkuliahan. Untuk mendukung hal ini, bisa dibuat skema subsidi kuota internet atau fasilitas ruang belajar bersama bagi mahasiswa yang memiliki keterbatasan akses.

Gamifikasi Perkuliahan: Dosen dapat memanfaatkan metode gamification, seperti kuis interaktif, leaderboard, atau pemberian badge digital bagi mahasiswa yang aktif. Dengan pendekatan ini, mahasiswa terdorong untuk berpartisipasi karena merasa tertantang sekaligus termotivasi.

Jurnal Refleksi Akademik: Setiap mahasiswa diwajibkan membuat jurnal refleksi singkat setelah perkuliahan. Jurnal ini berisi ringkasan materi, poin penting yang dipahami, serta evaluasi terhadap sikap belajar pribadi. Dengan cara ini, mahasiswa belajar untuk melakukan refleksi diri.

Mentoring Disiplin Belajar: Kampus dapat membentuk kelompok mentoring yang melibatkan dosen wali atau mahasiswa senior untuk membimbing juniornya dalam etika kuliah daring, manajemen waktu, dan strategi belajar efektif.

Transparansi Penilaian: Dosen perlu memberikan rubrik penilaian yang jelas sejak awal perkuliahan. Dengan begitu, mahasiswa memahami bahwa nilai diperoleh dari kombinasi kehadiran, partisipasi, tugas, dan ujian. Transparansi ini akan mengurangi keluhan karena mahasiswa tahu standar yang berlaku.

Sanksi dan Penghargaan: Mahasiswa yang berulang kali tidak disiplin dapat diberikan teguran administratif, sementara mahasiswa yang konsisten aktif diberikan penghargaan, baik berupa sertifikat maupun poin tambahan. Sistem sanksi dan penghargaan ini akan mendorong terciptanya budaya disiplin.


Penutup

Paradoks perkuliahan online di UNM menggambarkan bahwa masalah utama bukanlah terletak pada metode dosen, melainkan pada sikap mahasiswa yang kurang disiplin. Kamera dimatikan, kuliah sambil rebahan, dan ketidakseriusan dalam memperhatikan materi berujung pada nilai akademik yang rendah. Ironisnya, ketika hasilnya buruk, mahasiswa justru sibuk mengeluh dan menyalahkan pihak lain tanpa refleksi diri.

Untuk keluar dari paradoks ini, dibutuhkan solusi inovatif yang menekankan pada disiplin, partisipasi aktif, dan refleksi akademik. Melalui kebijakan kamera wajib aktif, gamifikasi, mentoring, dan transparansi penilaian, diharapkan mahasiswa mampu membangun kembali etos belajar yang sehat. Pada akhirnya, kualitas pembelajaran daring tidak hanya ditentukan oleh dosen, tetapi juga oleh kedisiplinan dan tanggung jawab mahasiswa. Hanya dengan kesadaran kolektif inilah UNM dapat membentuk generasi akademik yang profesional, mandiri, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama